Music Search Engine - Music Search Engine - Music Search Engine
  Visi Polda Babel : Tercapainya pelayanan kamtibmas yang prima, tegaknya hukum dan terwujudnya keamanan yang mantap di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung serta terjalinnya sinergi polisional yang proaktif dengan seluruh unsur dan komponen Pemerintah dan masyarakat

Polri : Waspadai Radikalisme Menyasar Generasi Muda

Polda - Bid Humas

polri-waspadai-radikalisme-menyasar-generasi-muda-vfsPolda Kep. Bangka Belitung, Bidang Hubungan Masyarakat,- Tim Divisi Humas Polri bersama Polda Jateng menggelar acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme dan Radikalisme.

Acara yang bertemakan “Terorisme Musuh Kita Bersama” ini dihadiri, Kabag Penum Ro Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol. Dr. Ahmad Ramadhan, S.H. M.Si., Kabidhumas Polda Jateng, Kombes Pol. Iskandar Fitriana Sutisna, Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol. Irwan Anwar dan beberapa tokoh agama, tokoh masyarakat Kota Semarang, serta Akedimisi, dan juga Tim Divhumas Polri.
“Jadi program kontra radikal ini bukan program piradikalisasi. Dimana kontra radikal dan piradikalisasi berbeda, kontra radikal adalah benteng atau pertahanan diri bagi masyarakat, agar tidak mudah dimasuki oleh paham paham radikal,” jelas Kabag Penum.
Kabag Penum juga menambahkan bahwa, sebenarnya sasarannya adalah anak-anak muda yang menjadi generasi penerus bangsa atau sering disebut generasi milineal.
“Dengan hadirnya FGD untuk akademisi ini, tetntunya akan meneruskan kepada anak didiknya atau generasi muda lainnya mengenai bahaya paham radikalisme ini,” tambahnya.
Selain itu, Kabag penum juga menyampaikan, seperti kasus yang terjadi sekarang ini, bahwa hal itu menunjukkan akar radikalisme yang menuju ke terorisme. Hal ini sangat membahayakan generasi muda bangsa ini.
“Seperti kasus bom bunuh diri Makasar yang terjadi beberaoa waktu lalu, kedua pelaku bom bunuh diri ini juga masi muda dan melinial, bahkan baru menikah enam bulan, serta kejadian di mabes Polri yang dilakukan anak muda, hal ini menjadi keprihatinan Mabes Polri,” imbuhnya.
“Artinya bahwa paparan radikalisme yang mengarah ke terorisme itu, mulai merambah ke generasi muda, ini sangat membahayakan anak anak muda sekarang. Untuk itu, program kontra radikal ini harus dilakukan oleh semua pihak,” jelas Kabag Penum.
Dijelaskannya, bahwa Divhumas Mabes Polri akan melaksanakan kegiatan ini di 24 Polda yang ada di seluruh Indonesia. Dalam kegiatan ini, melibatkan tiga fungsi yaitu Intelejen, Bimas dan Bidhumas.
“Sedangkan untuk Bidhumas sendiri, hanya melaksanakan peliputannya atau aplikasi pemberitaannya. Namun kita diminta Ka Densus Mabes Polri, untuk menyampaikan pesan tersebut, sehingga generasi muda tidak mudah terpengaruh paham radikalisme,” pungkasnya.
Sementara itu, Mantan pelajar dari Suriah, Muhammad Najih Arromadloni, menuturkan, bahwa kegiatan FGD ini dengan mensosialisaikan mengenai paham radikalisme yang terjadi sekarang ini hingga menjadi aksi teror di Indonesia. Merupakan tugasnya untuk menyampaikan hal ini sebagai Tokoh Masyarakat.
“Aksi teror ini memang memiliki jejaring dari Solo, Jawa Tengah ini. Karena Kota Semarang sangat dekat dengan wilayah Solo, sehingga paham radikalisme mudah masuk kepada generasi muda, hal ini yang kita lakukan antisipasi melalui forum ini,” tuturnya.
Dia juga menceritakan pengalamannya selama kuliah di Negara Suriah yang mana negara tersebut sering terjadi konflik. Namun bedanya di timur tengah ada ISIS, di Indonesia ada JAD.
“Oleh karna itu, nanti di dalam acara ini, akan sampaikan bahaya radikalisme dan pengalaman saya selama kuliah di Suriah,” ujarnya.Tim Divisi Humas Polri bersama Polda Jateng menggelar acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme dan Radikalisme, yang dilaksanakan di Mapolrestabes Semarang, Kamis (22/4/2021).
Acara yang bertemakan “Terorisme Musuh Kita Bersama” ini dihadiri, Kabag Penum Ro Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol. Dr. Ahmad Ramadhan, S.H. M.Si., Kabidhumas Polda Jateng, Kombes Pol. Iskandar Fitriana Sutisna, Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol. Irwan Anwar dan beberapa tokoh agama, tokoh masyarakat Kota Semarang, serta Akedimisi, dan juga Tim Divhumas Polri.
Kabag Penum mengungkapkan, kedatangannya bersama Tim Divhumas Mabes Polri, dalam rangka untuk meliput kegiatan FGD di Polrestabes Semarang ini.
Selain meliput kegiatan FGD ini, akan dilanjutkan dengan mengunjungi ke Ponpes Demak.
“Jadi program kontra radikal ini bukan program piradikalisasi. Dimana kontra radikal dan piradikalisasi berbeda, kontra radikal adalah benteng atau pertahanan diri bagi masyarakat, agar tidak mudah dimasuki oleh paham paham radikal,” jelas Kabag Penum.
Kabag Penum juga menambahkan bahwa, sebenarnya sasarannya adalah anak-anak muda yang menjadi generasi penerus bangsa atau sering disebut generasi milineal.
“Dengan hadirnya FGD untuk akademisi ini, tetntunya akan meneruskan kepada anak didiknya atau generasi muda lainnya mengenai bahaya paham radikalisme ini,” tambahnya.
Selain itu, Kabag penum juga menyampaikan, seperti kasus yang terjadi sekarang ini, bahwa hal itu menunjukkan akar radikalisme yang menuju ke terorisme. Hal ini sangat membahayakan generasi muda bangsa ini.
“Seperti kasus bom bunuh diri Makasar yang terjadi beberaoa waktu lalu, kedua pelaku bom bunuh diri ini juga masi muda dan melinial, bahkan baru menikah enam bulan, serta kejadian di mabes Polri yang dilakukan anak muda, hal ini menjadi keprihatinan Mabes Polri,” imbuhnya.
“Artinya bahwa paparan radikalisme yang mengarah ke terorisme itu, mulai merambah ke generasi muda, ini sangat membahayakan anak anak muda sekarang. Untuk itu, program kontra radikal ini harus dilakukan oleh semua pihak,” jelas Kabag Penum.
Dijelaskannya, bahwa Divhumas Mabes Polri akan melaksanakan kegiatan ini di 24 Polda yang ada di seluruh Indonesia. Dalam kegiatan ini, melibatkan tiga fungsi yaitu Intelejen, Bimas dan Bidhumas.
“Sedangkan untuk Bidhumas sendiri, hanya melaksanakan peliputannya atau aplikasi pemberitaannya. Namun kita diminta Ka Densus Mabes Polri, untuk menyampaikan pesan tersebut, sehingga generasi muda tidak mudah terpengaruh paham radikalisme,” pungkasnya.
Sementara itu, Mantan pelajar dari Suriah, Muhammad Najih Arromadloni, menuturkan, bahwa kegiatan FGD ini dengan mensosialisaikan mengenai paham radikalisme yang terjadi sekarang ini hingga menjadi aksi teror di Indonesia. Merupakan tugasnya untuk menyampaikan hal ini sebagai Tokoh Masyarakat.
“Aksi teror ini memang memiliki jejaring dari Solo, Jawa Tengah ini. Karena Kota Semarang sangat dekat dengan wilayah Solo, sehingga paham radikalisme mudah masuk kepada generasi muda, hal ini yang kita lakukan antisipasi melalui forum ini,” tuturnya.
Dia juga menceritakan pengalamannya selama kuliah di Negara Suriah yang mana negara tersebut sering terjadi konflik. Namun bedanya di timur tengah ada ISIS, di Indonesia ada JAD.
“Oleh karna itu, nanti di dalam acara ini, akan sampaikan bahaya radikalisme dan pengalaman saya selama kuliah di Suriah,” ujarnya.


Layanan Kiriman Berita

Tidak ingin ketinggalan informasi Polda Babel ?
thumbsup
Setiap ada artikel baru, otomatis dikirimkan ke email Anda. Daftarkan email anda sekarang, lalu aktifkan melalui email Anda, GRATIS

Delivered by FeedBurner

Pencarian